OneClick.co.id, Jakarta – Badai korupsi besar-besaran menghantam program andalan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG). Merespons hal tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah ekstrem dengan mencopot para petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) dan melantik tiga pimpinan baru di Istana Negara karena Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis, Senin (8/6/2026).
Pembersihan kabinet ini dilakukan setelah Kepala BGN lama, Dadan Hindayana, beserta dua wakilnya, Letjen TNI (Purn.) Lodewyk Pusung dan Irjen (Purn.) Sony Sanjaya, resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung terkait dugaan tata kelola program MBG.
Untuk membersihkan nama baik lembaga dan menyelamatkan program MBG, Prabowo menaikkan jabatan Nanik S. Deyang—yang sebelumnya merupakan Wakil Kepala BGN—menjadi Kepala BGN yang baru menggantikan Dadan Hindayana.
Tak main-main, guna memperketat pengawasan aliran dana setelah Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis, Prabowo ikut memboyong nama besar dari lembaga auditor negara ke dalam jajaran pimpinan baru:
Pelantikan ini disahkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 18/M Tahun 2026. Di hadapan Presiden, para pimpinan baru ini bersumpah untuk menjunjung tinggi etika jabatan dan bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab agar terhindar dan tidak terjadi lagi Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis.
Langkah tegas Prabowo ini dipicu oleh temuan mencengangkan dari pihak kejaksaan dari Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis tersebut. Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, membeberkan bahwa ketiga mantan pimpinan BGN yang dicopot sengaja menunjuk yayasan-yayasan “siluman” yang tidak memenuhi syarat sebagai mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Parahnya, yayasan yang ditunjuk tersebut terafiliasi langsung dengan Dadan, Sony, dan Lodewyk melalui nama orang lain atau perantara.
“Yayasan-yayasan tersebut mendapatkan insentif miliaran rupiah tiap hari. Bentuk terafiliasinya, yayasan-yayasan itu bisa dibilang milik mereka melalui orang lain,” ungkap Syarief di Kejagung, Rabu (3/6/2026).
Rombak total kepemimpinan di tubuh BGN ini diharapkan mampu memutus rantai mafia anggaran, sekaligus memastikan program Makan Bergizi Gratis bisa dinikmati oleh anak-anak sekolah tanpa disunat oleh oknum pejabat.
Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan total pada jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) menyusul penetapan mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana (DH), serta dua mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya (SS) dan Lodewyk Pusung (LP), sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung pada 3 Juni 2026.
Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis ini menandai kasus korupsi pertama dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) era Prabowo. Modus operandi para tersangka meliputi manipulasi verifikasi portal mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk meloloskan yayasan fiktif yang terafiliasi dengan mereka, serta mark-up fantastis dalam pengadaan barang (seperti motor listrik operasional, tablet, hingga TV ukuran besar) yang tidak sesuai kebutuhan lapangan. Langkah tegas pencopotan ini diambil pemerintah untuk menyelamatkan komitmen program dan memulihkan akuntabilitas publik.
Program unggulan nasional yang menyasar puluhan juta anak Indonesia kini tengah diguncang badai besar. Skandal korupsi Makan Bergizi Gratis akhirnya memaksa Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah ekstrem dengan melakukan pembersihan total dan merombak jajaran pimpinan puncak Badan Gizi Nasional (BGN). Kebijakan tegas ini diambil demi menyelamatkan kredibilitas pemerintahan sekaligus memastikan keberlanjutan program kesejahteraan rakyat tersebut.
Kejaksaan Agung (Kejagung) bergerak cepat menetapkan mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, bersama dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola anggaran. Ironisnya, Dadan Hindayana sebelumnya sempat dipuji sebagai sosok patriot oleh Presiden karena tindakan simbolis mengembalikan sebagian anggaran di awal program. Namun, penyelidikan Jampidsus membongkar fakta sebaliknya: ketiganya diduga memanfaatkan celah hukum demi keuntungan pribadi dari anggaran bernilai ratusan triliun rupiah tersebut.
Pihak penyidik Kejaksaan Agung mengungkapkan dua modus utama yang dilakukan oleh para tersangka dalam skandal korupsi Makan Bergizi Gratis ini:
Tidak butuh waktu lama dari Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis tersebut bagi Presiden Prabowo Subianto untuk langsung mencopot para pimpinan bermasalah tersebut sebelum Kejagung melakukan penahanan resmi. Langkah perombakan total pimpinan BGN ini menjadi sinyal keras dari Istana bahwa tidak ada ruang kompromi bagi koruptor, terlebih pada program yang menyangkut hajat hidup anak-anak sekolah dan ibu hamil. Pemerintah kini fokus menunjuk pimpinan baru, memperketat audit terbuka, serta membenahi transparansi data agar penyaluran makanan gratis ini tidak lagi menjadi ajang bancakan politik.
(UE)
Informasi aktual, analisis faktual. Tetap terhubung dengan berita terkini bersama www.OneClick.co.id