Target 82 Juta Penerima Dievaluasi, Kepala BGN Setop Proyek Dapur Baru di Jawa
OneClick.co.id, Jakarta – Badai korupsi yang sempat mengguncang Badan Gizi Nasional (BGN) langsung direspons dengan perombakan total strategi operasional. Kepala BGN yang baru dilantik, Nanik S. Deyang, bergerak cepat menggeser fokus program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari yang semula mengejar kuantitas penerima, kini menjadi pengetatan efisiensi anggaran dan kualitas gizi dengan Target 82 Juta Penerima Dievaluasi.
Nanik bahkan blak-blakan telah melapor kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa target ambisius 82,9 juta penerima manfaat di tahun 2026 kemungkinan besar tidak akan dipaksakan demi menyelamatkan tata kelola keuangan negara.
Rem Darurat Target 82 Juta Penerima Dievaluasi: Pembangunan Dapur Baru Disetop
BGN memilih fokus membenahi operasional ribuan dapur yang saat ini menumpuk di Pulau Jawa, sekaligus menyaring kembali siapa saja yang berhak menerima bantuan makanan gratis ini agar tidak salah sasaran.
“Dapur ini masih menumpuk di Jawa. Setelah kami menata, baru kami hitung apakah perlu membuka kembali atau tidak,” ujar Nanik dalam keterangan resminya untuk Target 82 Juta Penerima Dievaluasi, Senin (8/6/2026). “Kami melakukan refocusing, apakah perlu kalau misalnya sekolah kaya menerima MBG? Kita lebih arahkan penerima gizi, apakah 63 juta ini benar butuh atau perlu dikurangi.”
Siasat Daerah 3T: Ogah Andalkan APBN 100 Persen
Berbeda dengan wilayah Jawa yang direm, ekspansi program MBG di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) dipastikan akan tetap berjalan. Namun, skema pendanaannya diubah total agar tidak membebani kas negara.
BGN tidak akan membangun gedung dapur baru di daerah 3T, melainkan mengoptimalkan fasilitas dapur sekolah yang sudah ada. Selain itu, pembiayaannya akan dikeroyok bersama pihak swasta melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) dan dana hibah.
Berikut adalah empat arah baru kebijakan BGN di bawah kepemimpinan Nanik Deyang:
| Kebijakan Baru BGN | Implementasi di Lapangan |
|---|---|
| Kualitas di Atas Kuantitas | Target awal 82,9 juta penerima dievaluasi dan tidak dipaksakan cair tahun ini. |
| Moratorium Dapur Baru | Setop proyek SPPG baru; fokus audit operasional ribuan dapur yang menumpuk di Jawa. |
| Efisiensi Anggaran 3T | Maksimalkan dapur sekolah yang ada dan gandeng dana CSR/Hibah swasta. |
| Prioritas Kelompok 3B | Intervensi gizi wajib difokuskan untuk Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita. |
Fokus Kelompok ‘Tiga-B’ Mulai Jinakkan Anggaran
Langkah terakhir dari Target 82 Juta Penerima Dievaluasi yang dinilai paling krusial adalah kewajiban seluruh dapur pelayanan untuk memprioritaskan kelompok “Tiga-B”, yaitu Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita.
Berdasarkan rekomendasi para pakar gizi, intervensi makanan gratis terbukti paling efektif memotong angka stunting jika dimulai sejak anak masih dalam kandungan hingga berusia 9 tahun. Strategi baru untuk memantau Target 82 Juta Penerima Dievaluasi ini diklaim langsung memperlihatkan hasil nyata di lapangan, di mana dalam dua pekan terakhir, jumlah penerima dari kelompok prioritas Tiga-B ini sukses menembus angka 22 juta orang.
Badan Gizi Nasional (BGN) di bawah kepemimpinan baru Nanik S. Deyang mengubah strategi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan utama mencakup:
- Evaluasi Target: Angka awal Target 82 Juta Penerima Dievaluasi guna memprioritaskan kualitas makanan daripada kuantitas.
- Moratorium Dapur Baru: Pembangunan unit dapur/SPPG baru di wilayah Jawa resmi dihentikan sementara karena jumlahnya yang dinilai sudah menumpuk (tidak efisien).
- Refocusing Sasaran: Anggaran dialihkan untuk mengoptimalkan fasilitas lokal (seperti kantin atau dapur umum pesantren) serta memperluas jangkauan ke wilayah 3T dan kelompok rentan (ibu hamil, menyusui, dan balita).
Strategi Baru BGN: Kualitas Diatas Kuantitas
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru dilantik, Nanik S. Deyang, mengambil langkah berani dengan merombak total arah kebijakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah mengumumkan bahwa target 82 juta penerima dievaluasi ulang dan tidak lagi menjadi fokus utama yang dipaksakan tahun ini. Langkah ini diambil setelah BGN menghadap Presiden Prabowo Subianto untuk melaporkan strategi efisiensi anggaran fiskal serta peningkatan standar gizi di lapangan.
Mengapa Proyek Dapur Baru di Jawa Dihentikan?
Sebagai bagian dari evaluasi tersebut, Nanik Deyang menegaskan keputusan untuk menyetop sementara (moratorium) pendaftaran dan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur baru, khususnya di wilayah Jawa dan area aglomerasi. Berdasarkan data BGN, saat ini sudah ada lebih dari 27.000 dapur yang beroperasi dari Target 82 Juta Penerima Dievaluasi setelah Imbas Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis, namun lokasinya menumpuk di zona perkotaan sehingga memicu pemborosan biaya sewa dan operasional. BGN memilih untuk mematangkan tata kelola dapur yang sudah ada ketimbang terus menambah infrastruktur baru yang tidak merata.
Pengalihan Anggaran ke Wilayah 3T dan Kelompok 3B
Alih-alih membagikan makanan ke sekolah-sekolah elite atau mapan yang dinilai mandiri secara ekonomi, BGN akan melakukan refocusing sasaran. Prioritas utama dari hasil Target 82 Juta Penerima Dievaluasi kini dialihkan ke wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Selain pemerataan geografis, intervensi gizi ketat bakal menyasar kelompok “3B” yaitu Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita. Untuk menyiasati keterbatasan anggaran di pelosok, pemerintah tidak akan mendirikan bangunan fisik baru, melainkan memberdayakan sarana domestik yang sudah ada seperti kantin sekolah, dapur pesantren, serta fasilitas pangkalan TNI/Polri.
(UE)
Informasi aktual, analisis faktual. Tetap terhubung dengan berita terkini bersama www.OneClick.co.id
